Kamis, 04 Juli 2013

Puisi "Pesona Maha Karya"


Pesona Maha Karya

Setiap kali kubayangkan wajahmu...Bayanganmu selalu tersenyum manis dan manja...Menggambarkan betapa kau tak pernah bersedihYang selalu menikmati indahnya pesona alam iniSeperti tak ada beban dalam hidupmuPadahal waktu luangmu begitu sempit untuk bersenda gurau...Begitu kagumnya diri ini akanmu...Setiap kata yang kau ucap begitu bermakna bagikuSetiap nasihat menggambarkan kasih sayangmu...Memotivasi...Menghargai...Mewarnai hari-hariku...Seakan tak pernah lelah menebarkan kasih sayangmuNamun di balik itu semua...Allahlah sebenarnya yang aku kagumi...Dia memusatkan perhatianku padamuUntuk menggambarkan kekuasaan-NyaBetapa sempurna ciptaan-NyaHasil dari yang tercipta mampu dikagumi oleh siapa sajaMelukiskan betapa maha karya-Nya yang tak bisa tertandingi... 

3 Juni 2011

By JAIMAH

Jurusan Tarbiyah PAI

STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa

Makalah SKI




By Jaimah
STAIN ZCK Langsa
22/4/2012, Minggu
BAB I
PENDAHULUAN
Sejarah merupakan pengetahuan mengenai kejadian kejadian, peristiwa-peristiwa dan keadaan manusia di masa lampau dan ada kaitannya dengan keadaan masa kini. Sejarah juga merupakan pengetahuan tentang hukum-hukum yang tampak menguasai kehidupan masa lampau, yang diperoleh melalui penyelidikan dan analisis atau peristiwa-peristiwa masa lampau.
Sejarah peradaban Islam diartikan sebagai perekembangan atau kemajuan kebudayaan Islam dalam perspektif sejarahnya, dan peradaban Islam. Dalam perspektif Islam, manusia sebagai pelaku sekaligus pembuat peradaban memiliki kedudukan dan peran inti. Kedudukan dan posisi manusia di kisahkan dalam Al Qur’an diantaranya: manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna dan paling utama Allah berfirman: Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.
Pada bab selanjutnya pemakalah akan membahas tentang metode mengajar Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) secara lebih rinci lagi.


BAB II
PEMBAHASAN
(METODE MENGAJAR SKI)
A.    Pengertian
Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Jadi metode bisa juga berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.[1]
Pengertian sejarah secara etimologis berasal dari kata arab “syajarah” yang mempunyai arti “pohon kehidupan” dan yang kita kenal didalam bahasa ilmiyah yakni History, dan makna sehjarah mempunyai 2 konsep yaitu: pertama, konsep sejarah yang memberikan pemahaman akan arti objektif tentang masa lampau. Kedua, sejarah menunjukan maknanya yang subjektif, karena masa lampau tersebut telah menjadi sebuah kisah atau cerita.[2]
Sejarah kebudayaan (peradaban) Islam diartikan sebagai perekembangan atau kemajuan kebudayaan Islam dalam perspektif sejarahnya, dan peradaban Islam mempunyai berbagai macam pengetian lain diantaranya: pertama, sejarah peradaban Islam merupakan kemajuan dan tingkat kecerdasan akal yang di hasilkan dalam satu periode kekuasaan Islam mulai dari periode nabi Muhammad Saw sampai perkembangan kekuasaan Islam sekarang. Kedua, sejarah peradaban Islam merupakan hasil hasil yang dicapai oleh ummat Islam dalam lapangan kesustraan, ilmu pengetahuan dan kesenian. Ketiga, sejarah perdaban Islam merupakan kemajuan politik atau kekuasaan Islam yang berperan melindungi pandangan hidup Islam terutama dalam hubungannya dengan ibadah-ibadah, penggunaan bahasa, dan kebiasaan hidup bermasyarakat.
Sedangkan SKI adalah singkatan dari Sejarah Kebudayaan Islam yang merupakan sebuah mata pelajaran pendidikan agama Islam yang diarahkan untuk mengenal, memahami, menghayati sejarah Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way of life) melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, keteladan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan.
Berdasarkan pengertian di atas, maka metode pengajaran SKI merupakan cara-cara yang ditempuh oleh para guru dalam pelajaran SKI agar tujuan pelajaran SKI dapat tercapai.
B.     Metode Mengajar SKI
Pengetahuan tentang metode-metode mengajar sangat di perlukan oleh para pendidik, sebab berhasil atau tidaknya siswa belajar sangat tergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru.
Berbagai macam metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru terhadap semua mata pelajaran. Salah satunya adalah mata pelajaran SKI. Metode yang dapat digunakan dalam mata pelajaran SKI diantaranya adalah:
1.    Metode Ceramah.
Metode ceramah ialah suatu cara penyajian bahan pelajaran dengan melalui penuturan (penjelasan lisan) oleh guru kepada siswa. Dalam metode ceramah proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru umumnya didominasi dengan cara ceramah. Jadimelalui metode ceramah ini guru menceritakan/menyampaikan kejadian-kejadian masa lampau dan menjelaskan hikmah apa yang bisa diambil dari sejarah tersebut.
2.    Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan mengahasilkan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa memahami materi yang ada dalam pelajaran SKI. Metoda Tanya Jawab akan menjadi efektif bila materi yang menjadi topik bahasan menarik, menantang dan memiliki nilai aplikasi tinggi. Pertanyaaan yang diajukan bervariasi, meliputi pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya satu kemungkinan) dan pertanyaan terbuka (pertanyaan dengan banyak kemungkinan jawaban), serta disajikan dengan cara yang menarik.
3.      Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan penyajian materi melalui pemecahan masalah, atau analisis sistem produk teknologi yang pemecahannya sangat terbuka. Suatu diskusi dinilai menunjang keaktifan siswa bila diskusi itu melibatkan semua anggota diskusi dan menghasilkan suatu pemecahan masalah.
4.      Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara pengelolaan pembelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, benda yang sedang dipelajari. Demontrasi dapat dilakukan dengan menunjukkan benda baik yang sebenarnya, model, maupun tiruannya dan disertai dengan penjelasan lisan.
Demonstrasi akan menjadi aktif jika dilakukan dengan baik oleh guru dan selanjutnya dilakukan oleh siswa. Metoda ini dapat dilakukan untuk kegiatan yang alatnya terbatas tetapi akan dilakukan terus-menerus dan berulang-ulang oleh siswa.
5.      Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalah cara mengajar atau penyajian materi melalui penugasan siswa untuk melakukan suatu pekerjaan. Pemberian tugas dapat secara individual atau kelompok. Pemberian tugas untuk setiap siswa atau kelompok dapat sama dan dapat pula berbeda.
Agar pemberian tugas dapat menunjang keberhasilan proses pembelajaran, maka: (1) tugas harus bisa dikerjakan oleh siswa atau kelompok siswa, (2) hasil dari kegiatan ini dapat ditindaklanjuti dengan presentasi oleh siswa dari satu kelompok dan ditanggapi oleh siswa dari kelompok yang lain atau oleh guru yang bersangkutan, serta (3) di akhir kegiatan ada kesimpulan yang didapat.
BAB III
PENUTUP
Sebagai dasar pandangan hidup, mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
Ø  Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan.
Ø  Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah dan metodologi keilmuan.
Ø  Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti kebudayaan atau peradaban Islam di masa lampau.
Ø  Menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap proses terbentuknya sejarah Islam melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang.
Metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam pmbelajaran SKI metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: ceramah, demonstrasi, diskusi, tanya jawab, pemberian tugas dan sebagainya sesuai dengan materi apa yang ingin disampaikan ketika pelajaran SKI belangsung.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Warson, Kamus al-Munawwir,Yogyakarta: PP. Al-Munawwir Krapyak, 1984.
Atabik Ali, Kamus Kontemporer Arab Indonesia Cet. VIII; Yogyakarta: Multikarya Grafika, 2003.
http://ktiptk.blogspirit.com/archive/2009/01/26/pengertian-metode.html Diakses Tanggal 01 Desember 2012, Pukul 17:07 WIB.
http://alhafizh84.wordpress.com/2010/01/04/sejarah-kebudayaan-Islam/ Diakses Tanggal 20 Desember 2011, Pukul 17:54 WIB.
Khaeruddin, Ilmu Pendidikan Islam. Makassar: Yayasan Fatiya, 2002.
Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam. Cet. III; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.

BROWNIES



BROWNIES

Bahan pertama
  • ½ sdt garam
  • ½ sdt vanili bubuk
  • 1 sdt cake emulsiffier (misal Tbm, Sp, Ovalet)
  • 10 butir telur
  • 400 gr gula pasir
Bahan kedua (campur dan ayak)
  • 1 sdt baking powder
  • 100 gr cokelat bubuk
  • 200 gr tepung terigu protein sedang (misal segitiga)
Bahan ketiga (cairkan)
  • 200 gr dark cooking chocolate
  • 300 ml minyak sayur
Bahan keempat
  • 125 ml susu kental manis putih
Cara membuat brownies
  • Kocok dan campurkan bahan pertama menjadi satu sampai kental dan mengembang.
  • Kemudian masukkan bahan kedua sedikit demi sedikit hingga rata. Lalu tuangkan bahan ketiga, aduklah secara perlahan dengan spatula sampai tercampur rata. Ambil 175 gr adonan, campurkan dengan bahan keempat dan sisihkan.
  • Tuangkan ½ bagian sisa adonan tadi ke dalam loyang ukuran 23x23x7 cm yang sudah diolesi dengan sedikit minyak yang sudah dialasi dengan kertas roti selama 10 menit.
  • Lalu tuang kembali adonan yang sudah dicampur dengan bahan keempat, kukus dan terakhir masukkan sisa adonan. Kukus kembali selama 30 menit hingga matang.
  • Langkah terakhir angkat dan dinginkan.
Mudah bukan resep brownies diatas? Anda tidak perlu ragu untuk membuat sendiri dirumah. Segera siapkan bahan-bahan dan langsung menuju dapur kesayangan. Anda juga bisa mencoba cara membuat nastar untuk menambah referensi resep masakan yang telah terkumpul.


 

 

BROWNIES KUKUS

Bahan kue brownies kukus

  1. 100 gr margarine
  2. 50 gr dark cooking cocholate
  3. 150 gr putih telur
  4. 1/4 st garam
  5. 175 gr gula pasir
  6. 125 gr terigu
  7. 1/4 st baking powder
  8. 25 gr almond/kenari untuk taburan

Cara Membuat kue brownies kukus

  1. Panaskan kukusan
  2. Tim coklat masak dan margarine hingga leleh, dinginkan
  3. Kocok putih telur dan garam hingga setengah mengembang, tambahkan gula, kocok hingga mengembang.
  4. Ayak bahan kering, masukkan dalam kocokan putih telur, aduk rata, tambahkan campuran margarine, aduk rata.
  5. Tuang dalam loyang brownies yang sudah dialasi kertas roti, dioles margarine dan ditaburi terigu. Taburi almon atau kenari.
  6. Kukus 30 menit hingga matang dengan api sedang.
http://resep.makan.web.id/2011/01/resep-brownies-kukus/

Makalah Tafsir


 
By Jaimah
STAIN ZCK Langsa
Minggu, 22 April 2012



BAB I
PENDAHULUAN
 
Tafsir secara bahasa mengikuti wazan ”taf`íl”, berasal dari asal kata al-Fashr yang berarti menjelaskan, menyingkap dan menampakkan atau menerangkan makna yang abstrak. Kata kerjanya mengikuti wazan ”daraba – yadribu” dan ”nasara-yansuru”. Kata at-tafsir dan al-fasr mempunyai arti menjelaskan dan menyingkap yang tertutup. Dalam lisanul `Arab dinyatakan: kata kata ”al-fasr” berarti menyingkap sesuatu yang tertutup, sedang kata ”at-tafsir” berarti menyingkapkan maksud sesuatu lafadz yang musykil, pelik. Dalam al-Qur`an dinyatakan:
(Tidaklah mereka datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan paling baik tafsir-nya) (al-Furqan [25]:33).
Dalam pengertian istilah ahli tafsir, ada beberapa macam maknanya:
Ø Golongan mutaqoddimin memaknakan ta`wil dengan tafsir,
Ø Mujahid berkata : ”Bahwasanya para ulama mengetahui ta`wil Al Qur-an, yakni tafsirnya. Ibnu Jarir pun mempergunakan kata ta`wil dalam arti tafsir.
Sedangkan asbabun nuzul menurut Joni Tamkin Borhan dan Che Zarina Shaari (1995), kaedah bahasa Arab menggariskan kata “Asbab al-Nuzul” terdiri daripada dua suku kata iaitu “Asbab” dan “Nuzul”. Kata “Asbab” ialah kata jama’ daripada kata sebab yang bererti “sebab”. Sementara kata “Nuzul” pula adalah kata benda (masdar) daripada katakerja (fi’il) “nazala” yang bererti “telah turun”. Oleh itu, frasa “Asbab al-Nuzul” bererti“sebab-sebab turun” yang bermaksud “sebab-sebab turunnya ayat-ayat al-Qurankepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT”.Dari sudut istilah pula, para mufassirin mendefinisikan “Asbab al-Nuzul”sebagai “apa-apa yang menyebabkan penurunan sesuatu ayat atau beberapa ayatatau pemberian jawapan terhadap sebabnya ataupun menerangkan hukumnya padamasa berlakunya peristiwa itu.”
Pada bab selanjutnya saya akan menafsirkan surat Ali Imran ayat 61 dan Surat Al-Kafirun ayat 1-6, beserta asbabun nuzul dan kandungannya.
BAB II
PEMBAHASAN




Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 61

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Artinya: Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.

Tafsir Al-Qur’an Surat Ali Imran Ayat 61:
Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad bila masih ada orang yang membantah kebenaran berita tentang kejadian Isa, sesudah mendapat penjelasan hendaklah mereka diajak bermubahalah untuk membuktikan siapa yang benar dan berdoa supaya Allah SWT menjatuhkan laknat-Nya kepada orang yang berdusta. Mubahalah ini sebagai pencerminan dari kebenaran kepercayaan itu. Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw, agar mengundang keluarga masing-masing baik dari pihaknya maupun dari pihak mereka, yang terdiri dari anak-anak dan isteri, untuk mengadakan mubahalah ini.
Di dalam ayat disebutkan lebih dahulu isteri dan anak-anak nabi dalam mubahalah, karena seseorang lebih mengkhawatirkan diri keluarganya dari pada dirinya sendiri. Hal ini mengandung pengertian bahwa Nabi Muhammad saw, telah percaya dengan penuh keyakinan bahwa bencana yang tidak dikehendaki, sebagai akibat dari muhabalah itu tidak akan menimpa keluarganya dan dirinya. Kemudian ayat ini yang dikenal sebagai ayat mubahalah.
Mengenai terjadinya ajakan mubahlah tersebut telah diriwayatkan melalui berbagai macam sumber, bahwa Nabi Muhammad saw, telah mengajak orang-orang Nasrani dari suku Najran untuk mengadakan mubahalah, tetapi mereka menolak.
Imam Bukhari dan Imam Muslim juga telah meriwayatkan sebuah hadis bahwa Al 'Aqib dan As Sayid mengunjungi Rasulullah saw. Kemudian beliau berkeinginan untuk mengadakan mubahalah dengan mereka. Maka salah seorang di antara mereka berkata kepada kaumnya: "Janganlah kamu bermuhabalah dengan dia. Demi Allah apabila ia betul-betul seorang Nabi lalu dia bemubahalah dengan kita, niscaya kita tidak akan berbahagia selamanya, dan tidak akan ada generasi yang akan melanjutkan keturunaan kita. Kemudian mereka berkata kepada Nabi saw: "Kami akan memberikan apa yang engkau minta sebab itu utuslah kepada kami seorang laki-laki yang terpercaya" Kemudian Nabi saw bersabda: "Berdirilah hai, Aba Ubaidah", maka setelah ia berdiri Nabipun bersabda: "Inilah orang yang terpercaya dikalangan umat ini" .
Abu Nu'aim meriwayatkan pula sebuah hadis dari Ibnu 'Abbas dalam kitab Ad Dalail melalui sanad dari Ata'dan Ad Dahak dari lbnu Abbas bahwasanya delapan orang Nasrani dan penduduk Najran mendatangi Rasulullah saw Di antara mereka terdapat 'Aqib dan As Sayid. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat ini. Lalu mereka berkata: "Beri tangguhlah kami tiga hari". Lalu mereka pergi kepada Bani Quraizah, Bani Nadir dan Bani Qainuqa' dari kalangan orang-orang Yahudi. Kemudian mereka memberi isyarat untuk berdamai saja dan tidak mengadakan mubahalah dengan Nabi. Kemudian mereka berkata: "Dia adalah nabi yang telah diberitakan kedatangannya di dalam kitab Taurat". LaIu mereka mengadakan perdamaian dengan Nabi saw dengan perjanjian membayar 1.000 potong pakaian pada bulan Safar dan 1.000 potong lagi disertai sejumlah uang pada bulan Rajab.
Dan diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw, telah mengajukan Ali, Fatimah dan kedua putra mereka, Hasan dan Husain selain diri beliau sendiri, untuk bermuhabalah dan Nabi pun keluar bersama-sama mereka seraya bersabda: "Apabila saya berdoa hendaklak kamu membaca, Amin".
Dan Ibnu `Asakir telah meriwayatkan sebuah hadis dari Ja'far dari ayahnya, bahwa setelah ayat ini turun, Nabi membawa Aba Bakar bersama-sama anak-anaknya, Umar dan anak-anaknya clan 'Usman bersama anak-anaknya. Dapat dipahami dari ayat-ayat ini bahwa Nabi Muhammad saw, telah memerintahkan untuk mengundang orang-orang yang menentang hakekat kejadian, Isa dari kalangan orang-orang ahli kitab untuk berkumpul baik lakl-laki, perempuan ataupun anak-anak, dan juga Nabi mengumpulkan orang mukminin baik laki-laki, perempuan atau anak-anak. Mereka pun mengajak bermubahalah kepada Allah SWT agar Dia melaknat orang-orang yang sengaja berdusta. Ajakan Nabi saw untuk bermubahalah itu menunjukkan adanya keyakinan yang penuh terhadap kebenaran apa yang beliau katakan, sebaliknya keengganan orang-orang yang diajak untuk bermubahalah menunjukkan alasan dan kepalsuan kepercayan mereka.
Di dalam ayat ini terdapat suatu pelajaran bahwa wanita harus diikut sertakan untuk turut bersama-sama lelaki menghadapi persoalan yang penting. Hal ini menunjukkan kelebihan agama Islam dari agama lain. Juga terdapat suatu petunjuk bahwa menurut ajaran Islam, para wanita sama hak dan kewajibannya dengan laki-laki dalam berbagai urusan.

Asbabun Nuzul Surah Ali 'Imran ayat 61:
Baihaqi mengetengahkan dalam Dalail dari jalur Salamah bin Abdu Yasyu' dari bapaknya seterusnya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw. menulis surat kepada warga Najran, yakni sebelum diturunkan kepadanya surat Thasin, "Atas nama Tuhan dari Ibrahim, Ishak dan Yakub, dari Muhammad yang nabi..." Di dalamnya disebutkan, "Maka orang-orang Najran itu mengutus Syurahbil bin Wadaah Al-Hamdani, Abdullah bin Syurahbil Al-Ashbahi dan Jabbar Al-Hartsi kepada Nabi saw. Perutusan ini berangkat mendatangi Nabi saw. sehingga mereka pun saling bertanya jawab. Demikianlah tanya jawab ini terus berlangsung sampai mereka menanyakan, 'Bagaimana pendapat Anda tentang Isa?' Jawab Nabi saw., 'Sampai hari ini tak ada suatu pun pendapat saya mengenai dirinya. Tinggallah tuan-tuan di sini dulu sampai saya dapat menerangkannya!' Ternyata esok paginya Allah telah menurunkan ayat ini, 'Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah...,' sampai dengan firman-Nya, '...seraya kita memohon agar laknat Allah itu ditimpakan-Nya kepada orang-orang yang dusta.'" (Q.S. Ali Imran 59-61) Ibnu Saad mengetengahkan dalam kitab Thabaqat dari Azraq bin Qais, katanya, "Telah datang kepada Nabi saw. uskup negeri Najran bersama bawahannya, kepada mereka ditawarkannya agama Islam, Mereka menjawab, 'Sebelum Anda, kami telah Islam.' Jawab Nabi saw., 'Bohong! Ada tiga perkara yang menghalangi tuan-tuan masuk Islam, yakni ucapan tuan-tuan bahwa Allah mempunyai anak, memakan daging babi dan sujud kepada patung.' Tanya mereka, 'Siapakah bapak dari Isa?' Rasulullah tidak dapat menjawab sampai Allah menurunkan, 'Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah...,' sampai dengan firman-Nya, '...dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tangguh lagi Maha Bijaksana.' (Q.S. Ali Imran 59-62) Nabi mengajak mereka untuk saling kutuk-mengutuk, tetapi mereka menolak dan setuju akan membayar upeti lalu mereka pun kembali."

Kandungan dan Inti Surat Ali ‘Imran Ayat 61:
Ayat 61 ini menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad agar mengajak orang-orang nasrani yang membantah tentang kisah nabi Isa yang sebenarnya untuk berdialog (berdebad/musyawarah) untuk membuktikan kebenaran anggapan masing-masing mengenai kisah nabi Isa yang sebenarnya.

Nilai-nilai Pendidikan Surat Ali ‘Imran Ayat 61:
Nilai-nilai pendidikan dalam ayat ini adalah mengajarkan kita agar benar-benar yakin bahwa Isa itu adalah seorang nabi, bukan Tuhan. Jika tidak yakin sepenuhnya, maka Allah akan melaknat orang yang ingkar akan kebenaran yang memang sudah disampaikan dan dijelaskan melalui Rasulullah SAW.



Al-Qur’an Surat Al-Kafirun Ayat 1-5:
١      قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
۲      لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُون
۳      وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
۴      وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ
۶      وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
۶      لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Artinya:
1.      Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir,
2.      Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3.      Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
4.      Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.
5.      Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
6.      Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku".

Tafsir Surat Al-Kafirun Ayat 1-6:
Telah diriwayatkan bahwa Walid bin Mugirah, 'As bin Wail As Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib dan Umaiyah bin Khalaf bersama rombongan pembesar-pembesar Quraisy datang menemui Nabi SAW. menyatakan, "Hai Muhammad! Marilah engkau mengikuti agama kami dan kami mengikuti agamamu dan engkau bersama kami dalam semua masalah yang kami hadapi, engkau menyembah Tuhan kami setahun dan kami menyembah Tuhanmu setahun. Jika agama yang engkau bawa itu benar, maka kami berada bersamamu dan mendapat bagian darinya, dan jika ajaran yang ada pada kami itu benar, maka engkau telah bersekutu pula bersama-sama kami dan engkau akan mendapat bagian pula daripadanya". Beliau menjawab, "Aku berlindung kepada Allah dari mempersekutukan-Nya". Lalu turunlah surah Al Kafirun sebagai jawaban terhadap ajakan mereka.
Kemudian Nabi SAW pergi ke Masjidilharam menemui orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul di sana dan membaca surah Al Kafirun ini, maka mereka berputus asa untuk dapat bekerja sama dengan Nabi SAW. Sejak itu mulailah orang-orang Quraisy meningkatkan permusuhan mereka ke pada Nabi dengan menyakiti beliau dan para sahabatnya, sehingga tiba masanya hijrah ke Madinah.
Dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyatakan kepada orang-orang kafir, bahwa "Tuhan" yang kamu sembah bukanlah "Tuhan" yang saya sembah, karena kamu menyembah "tuhan" yang memerlukan pembantu dan mempunyai anak atau ia menjelma dalam sesuatu bentuk atau dalam sesuatu rupa atau bentuk-bentuk lain yang kau dakwakan.
Sedang saya menyembah Tuhan yang tidak ada tandingan-Nya dan tidak ada sekutu bagi-Nya; tidak mempunyai anak, tidak mempunyai teman wanita dan tidak menjelma dalam sesuatu tubuh. Akal tidak sanggup menerka bagaimana Dia, tidak ditentukan oleh tempat dan tidak terikat oleh masa, tidak memerlukan perantaraan dan tidak pula memerlukan penghubung.
Maksudnya; perbedaan sangat besar antara "tuhan" yang kamu sembah dengan "Tuhan" yang saya sembah. Kamu menyakiti tuhanmu dengan sifat-sifat yang tidak layak sama sekali bagi Tuhan yang saya sembah.

Asbabun Nuzul Surat Al-Kafirun Ayat 1-6
Imam Tabrani dan Imam Ibnu Abu Hatim, mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwasanya orang-orang Quraisy mengajak Rasulullah saw. supaya meninggalkan seruannya dengan imbalan, bahwa mereka akan memberikan kepadanya harta yang berlimpah, sehingga akan membuatnya menjadi lelaki yang terkaya di kota Mekah dan mereka akan menikahkannya dengan wanita-wanita yang disukainya Untuk itu orang-orang Quraisy mengatakan, "Semuanya itu adalah untukmu, hai Muhammad, asal kamu cegah dirimu dari mencaci maki tuhan-tuhan kami dan jangan pula kamu menyebut-nyebutnya dengan sebutan yang buruk. Jika kamu tidak mau, maka sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun." Lalu Rasulullah saw. menjawab, "Tunggulah sampai ada wahyu yang turun kepadaku dari Rabbku."
Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Katakanlah!, 'Hai orang-orang kafir...'" (Q.S. 109 Al Kaafiruun, 1 hingga akhir surah). Allah swt. menurunkan pula ayat lainnya, yaitu firman-Nya, "Katakanlah!, 'Apakah kalian menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?'" (Q.S. Az Zumar, 64).
Abdur Razzaq mengetengahkan sebuah hadis melalui Wahab yang menceritakan, bahwasanya orang-orang Quraisy telah berkata kepada Nabi saw., "Jika kamu suka kamu boleh mengikuti kami selama satu tahun dan kami akan mengikuti pula agamamu selama setahun." Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Katakanlah!, 'Hai orang-orang kafir!...'" (Q.S. 109 Al Kaafiruun, 1 hingga akhir surah). Imam Ibnu Munzir mengetengahkan pula hadis yang serupa melalui Ibnu Juraij. Imam Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Said bin Mina yang menceritakan, bahwasanya Walid bin Mughirah, 'Ash bin Wa-il, Aswad bin Muttalib dan Umaiyah bin Khalaf mereka semuanya bertemu dengan Rasulullah saw. lalu mereka mengatakan, "Hai Muhammad! Kemarilah, mari kamu sembah apa yang kami sembah, maka kami pun akan menyembah Tuhan yang kamu sembah. Dan marilah kita bersama-sama bersekutu antara kami dan kamu di dalam perkara kita ini secara keseluruhan. Sehingga Allah menurunkan surat Al-Kafirun ini.

Kandungan, Inti dan Nilai Pendidikan dalam Surat Al-Kafirun ayat 1-6:
1.      Allah mengajarkan kita agar tidak menyembah tuhan selain Allah.
2.      Tidak boleh beribadah bersama-sama orang kafir.
3.      Antara agama Islam dan agama yang lain jelas sekali perbedaannya (tidak sama).


BAB III
PENUTUP


Kandungan dan inti surat ali ‘imran ayat 61: Ayat 61 ini menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad agar mengajak orang-orang nasrani yang membantah tentang kisah nabi Isa yang sebenarnya untuk berdialog (berdebad/musyawarah) untuk membuktikan kebenaran anggapan masing-masing mengenai kisah nabi Isa yang sebenarnya.
Nilai-nilai pendidikan dalam ayat ini adalah mengajarkan kita agar benar-benar yakin bahwa Isa itu adalah seorang nabi, bukan Tuhan. Jika tidak yakin sepenuhnya, maka Allah akan melaknat orang yang ingkar akan kebenaran yang memang sudah disampaikan dan dijelaskan melalui Rasulullah SAW.
Kandungan, inti dan nilai pendidikan dalam surat al-kafirun ayat 1-6: Allah mengajarkan kita agar tidak menyembah tuhan selain Allah; Tidak boleh beribadah bersama-sama orang kafir; Antara agama Islam dan agama yang lain jelas sekali perbedaannya (tidak sama).


DAFTAR PUSTAKA



http://www.scribd.com/doc/21216882/Asbabun-Nuzul Diakses Tanggal 19 Desember 2011, Pukul 16:09 WIB.

http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/2122327-pengertian-tafsir-dan-ta-wil/ Diakses Tanggal 19 Desember 2011, Pukul 16:15 WIB.

http://en.wikipedia.org/wiki/Tafsir Diakses Tanggal 19 Desember 2011, Pukul 16:20 WIB.

http://c.1asphost.com/sibin/ Diakses Tanggal 18 Desember 2011, Pukul 14:15 WIB

PUISI


By Jaimah








THE MEANING OF LOVE

That is love ...
Something abstract, but present and real.
Holy, pure, will never be able to spotted.
Charm not easily to be forgotten,
even thousands of times run over the evening light.
Not quite the word to can represent the meaning of love
true.

That is love ...
always character a mystery in the universe.
For we can never guess his presence-
we are unable to touch when he addresses,
and to whom she would donate sincere.
but we could feel the warm vibration-
to knock on the door of your heart and soul.

That is love ...
Something good (grace) - which can only touch us
one-time-and the last time during our lives.
even he will never be faithful to leave us,
until we later died.
That's true love-love that will never die.

He will be there when people get older middle-
Do not care about the age-old and young, male or female.
When we are feeling something beyond logic,
and liver more talkative than the eye,
where day and night no longer 'so' is different for us,
and fear of loss of something valuable,
may be, we are called love.